Menulis dari Lebih 1000 Guru
Ibnu Katsir berkata dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah tentang
Muhammad bin Ismail,
”Dia melakukan perjalanan kepada seluruh guru hadits di
kota-kota yang memungkinkan baginya untuk menjangkaunya. Dia menulis hadits lebih
dari 1000 guru. “
Ibnu Katsir berkata pula, “Muhammad bin Ismail pernah bangun
dari tidurnya di suatu malam. Dia pun menyalakan lampu dan mencatat ilmu yang
terlintas di benaknya, lalu dia mematikan lampu kembali. Kemudian, dia bangun
lagi dan melakukan hal yang sama. Demikian, sampai hal itu terjadi sekitar 20
kali.”
Allaahu akbar. Betapa besar cintanya pada ilmu.
Muhammad bin Yusuf bercerita, “Suatu malam, aku berada di
rumah Muhammad bin Ismail. Aku memperhatikannya bangun, lalu dia menyalakan
lampu untuk mengingat sesuatu dan mencatatnya sebanyak 18 kali.”
Simak pula penurutan dari Muhammad bin Abu Hatim, sang
penyedia kertas bagi Muhammad bin Ismail, “Apabila aku bersama Abu Abdillah
(Muhammad bin Ismail) dalam suatu perjalanan, maka dia mengumpulkan kami dalam
satu rumah, kecuali terkadang di musim panas. Aku melihatnya bangun dalam satu
malam sebanyak 15 hingga 20 kali. Pada saat seperti itu, dia mengambil pemantik
api, lalu dia menyalakan api dan lampu. Kemudian dia mengeluarkan hadits-hadits,
dan menandainya. Lalu, dia merebahkan diri, dan sholat di waktu sahur sebanyak
13 rakaat. Setiap kali bangun, dia tak pernah membangunkanku. Aku berkata
padanya, ‘Engkau melakukan semua ini dengan tekun, tanpa membangunkanku.’ Dia
berkata, ‘Kamu masih kecil, aku tak ingin mengganggu tidurmu.’
Suatu hari, ketika kami berada di Firabr, aku melihatnya
telentang di atas tengkuknya dalam menulis kitab tafsir. Pada hari itu dia
tampak begitu lelah, karena banyaknya dia mengeluarkan hadits. Aku berkata
kepadanya, ‘Wahai Abu Abdillah (Muhammad bin Ismail), aku mendengarmu telah
berkata, ‘Sesungguhnya aku tidak melakukan sesuatu tanpa ilmu, sejak aku
memahaminya’. Lalu, ilmu apa yang engkau gunakan dalam kondisi telentang
begini?’
Dia menjawab, ‘Kami begitu lelah hari ini. Dan, tempat ini
adalah satu diantara perbatasan. Aku khawatir ada sesuatu yang terjadi dari
musuh. Aku ingin beristirahat, dan aku mempersiapkan dir untuk itu. Jika
tiba-tiba musuh menyerang, sementara kita belum siap, kita masih punya
kekuatan.’”
Muhammad bin Abi Hatim melanjutkan, “Muhammad bin Ismail
ahli menunggang (kuda) dan memanah. Selama aku menyertainya, aku belum pernah
mengetahui panahnya meleset dari sasaran, kecuali 2 kali, dan dia tak
tertandingi.”
Inilah pemuda yang nantinya menjadi pemimpin para ahli hadits, yang namanya disebut-sebut orang dengan manis: Imam Al-Bukhari. Semoga rahmatNya senantiasa tercurah untuk beliau dan kita...
Tidak ada komentar